SEBUAH PERENUNGAN ~ PENCERAHAN ~ PENGUBAH HIDUP SAYA
Pada suatu
ketika saya jalan – jalan bersama istri dan anak – anak saya ke sebuah mall.
Sepeti biasa saya selalu menyempatkan diri untuk masuk ke Gramedia sekedar
untuk melihat – lihat buku. Buku apa aja. Kalau kebetulan ada yang menarik
tentu akan saya beli dan tentu saja kalau cocok dengan isi dompet juga. Hehe…
Nah, saat itu
mata saya terpaku pada sebuah buku di deretan buku best seller yang menggelitik
saya untuk melihatnya lebih dekat. Gambar sampulnya lucu. Sebuah gambar
karikatur cacing yang tampak bersuka ria dengan separuh badannya diluar – maaf
– kotoran manusia dan sebagian lagi berada di dalamnya. Judulnya adalah “Si
Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. Karya Ajahn Brahm. Hmm… siapa sih dia?
Karena rasa penasaran saya, saya ambil buku itu, saya balik, saya baca. WOW !
ternyata dia adalah seorang sarjana fisika lulusan Cambridge University.
Seorang berkebangsaan Inggris yang memutuskan untuk menjadi pertapa dalam
tradisi hutan Thai. Menarik!
Semakin besar
keinginan untuk membeli buku tersebut. Apalagi disitu diceritakan bahwa isinya
adalah kumpulan cerita – cerita yang menarik dan penuh humor. Dan satu lagi,
ada garansi uang kembali 100% dengan catatan “jika Anda tidak mendapatkan
manfaat setelah membaca buku ini”. Haha… ada – ada saja.
Nah, berikut
akan tulis ulang salah satu cerita dalam buku tersebut, lebih tepatnya cerita
pertama dengan judul “Dua Bata Jelek”. Sebuah cerita yang menjadi salah satu
awal terbukanya mata hati saya, mengubah cara pandang saya dalam memaknai dan menjalani
hidup. Bukan saya saja, tetapi juga istri tercinta saya. Semoga anda para
pembaca juga. Ok, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
~ DUA BATA JELEK
~
Setelah kami
membeli tanah untuk wihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami
terjerat hutang. Tidak ada bangunan di atas tanah itu, bahkan sebuah gubuk pun
tak ada. Pada minggu – minggu pertama, kami tidur di atas pintu – pintu tua
yang kami beli murah dari pasar loak. Kami mengganjal pintu – pintu itu dengan
batu bata di setiap sudut untuk meninggikannya dari tanah (tak ada matras –
tentu saja, kami kan pertapa hutan).
Biksu kepala
mendapatkan pintu yang paling bagus, pintu yang datar. Pintu saya bergelombang
dengan lubang yang cukup besar di tengahnya, yang dulunya tempat gagang pintu.
Saya senang karena gagang pintu itu telah dicopot, tetapi malah jadi ada lubang
persis di tengah – tengah ranjang pintu saya. Saya melucu dengan mengatakan
bahwa sekarang saya tidak perlu bangkit dari ranjang jika ingin ke toilet!
Kenyataannya, ada saja, angin masuk melewati lubang itu. Saya jadi tak bisa
tidur nyenyak sepanjang malam – malam itu.
Kami hanyalah
biksu – biksu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar
tukang – bahan – bahan bangunannya saja sudah cukup mahal. Jadi saya harus
belajar cara bertukang : bagaimana mempersiapkan pondasi, menyemen dan memasang
batu bata, mendirikan atap, memasang pipa – pipa – pokoknya semua. Saya adalah
seorang fisikawan teori dan guru SMA sebelum menjadi biksu, tidak biasa bekerja
kasar. Setalah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan
saya menjuluki tim saya “BBC” (Buddhist
Building Company). Tetapi, pada saat memulainya, ternyata bertukang itu
sangatlah sulit.
Kelihatannya
gampang, membuat tembok dengan batu bata, tinggal tuangkan seonggok semen,
sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Ketika saya mulai memasang batu bata,
saya ketok satu sisi untuk meratakannya, tetapi sisi lainnya malah jadi naik.
Lalu saya ratakan sisi yang naik itu, batu batanya jadi melenceng. Setelah saya
ratakan kembali, sisi yang pertama jadi terangkat lagi. Coba saja sendiri!
Sebagai seorang
biksu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak saya perlukan. Saya pastikan
setiap batu bata terpasang sempurna tidak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya
saya menyelesaikan tembok batu bata saya yang pertama dan berdiri dibaliknya
untuk mengagumi hasil karya saya. Saat itulah saya melihatny – oh, tidak! – saya
telah keliru menyusun dua batu bata. Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi
dua batu bata tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka
merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya.
Saat itu
semennya sudah terlanjur terlalu keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi
saya bertanya kepada kepala wihara apakah saya boleh membongkar tembok itu dan
membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya
sekalian.Saya telah membuat kesalahan dan saya menjadi gundah gulana. Kepala
wihara bilang tak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.
Ketika saya
membawa para tamu pertama kami berkunjung keliling wihara kami yang baru
setengah jadi, saya selalu menghindarkan membawa mereka melewati tembok bata
yang saya buat. Saya tidak suka jika ada orang yang melihatnya. Lalu suatu
hari, kira – kira 3-4 bulan setelah saya membangun tembok itu, saya berjalan dengan
seorang pengunjung dan dia melihatnya.
“Itu tembok yang
indah”, ia berkomentar dengan santainya.
“Pak”, saya
menjawab dengan terkejut, “apakah kacamata anda tertinggal di mobil? Apakah
penglihatan Anda sedang terganggu? Tidakkah Anda melihat dua batu bata jelek
yang merusak keseluruhan tembok itu?”
Apa yang ia
ucapkan selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok
itu, berkenaan dengan diri sayasendiri dan banyak aspek lainnyadalam kehidupan.
Dia berkata,”Ya, saya melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat
998 batu bata yang bagus.”
Saya tertegun.
Untuk pertamakalinya dalam lebih dari tiga bulan, saya mampu melihat batu bata
– batu bata lainnya selain dua batu bata jelek itu. Di atas, di kiri, dan di
kanan dari dua batu bata jelek itu adalah batu bata – batu bata yang bagus,
batu bata yang sempurna. Lebih dari itu, jumlah jumlah batu bata yang terpasang
sempurna, jauh lebih banyak daripada dua batu bata jelek itu. Selama ini mata
saya hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah saya perbuat, saya terbutakan
dari hal – hal lainnya. Itulah sebabnya saya tak tahan melihat tembok itu, atau
tak rela membiarkan orang lain melihatnya juga. Itulah sebabnya saya ingin
menghancurkannya. Sekarang, saya dapat melihat batu bata - batu bata yang bagus, tembok itu jadi
tampak tak terlalu buruk lagi. Tembok itu menjadi, seperti yang dikatakan
pengunjung itu,”Sebuah tembok yang indah.” Tembok itu masih tetap berdiri
sampai sekarang, setelah dua puluh tahun, namun saya sudah lupa persisnya
dimana dua batu bata jelek itu berada. Saya benar – benar tak dapat melihat
kesalahan itu lagi.
Berapa banyak
orang yang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yang mereka lihat
dari diri pasangannya adalah “dua bata jelek”? Berapa banyak diantara kita yang
menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yang kita lihat
dalam diri kita hanyalah “dua bata jelek”? Pada kenyataannya, ada banyak, jauh
lebih banyak batu bata yang bagus – di atas, di bawah, di kiri, dan di kanan
dari yang jelek – namun pada saat itu kita tidak mampu melihatnya. Malahan,
setiap kali kita melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kekeliruan yang kita
perbuat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira yang ada
hanyalah kekeliruan semata, karenanya kita ingin menghancurkannya. Dan
terkadang, sayangnya, kita benar – benar menghancurkan “sebuah tembok yang
indah”.
Kita semua
memiliki “dua bata jelek”, namun bata yang baik di dalam diri kita masing –
masing, jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita melihatnya,
semua akan tampak tak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan
diri sendiri, termasuk dengan kesalahan – kesalahan kita, namun kita juga bisa
menikmati hidup bersama pasangan – pasangan kita. Ini kabar buruk bagi
pengacara urusan perceraian, tetapi ini kabar baik bagi anda.
Saya telah
beberapa kali menceritakan anekdot ini. Pada suatu pertemuan, seorang tukang
bangunan mendatangi dan memberitahu saya tentang rahasia profesinya.
“Kami para
tukang bangunan selalu membuat kesalahan,” katanya., “tetapi kami bilang ke
pelanggan kami bahwa itu adalah “ciri unik” yang tiada duanya di rumah – rumah
tetangga. Lalu kami menagih biaya tambahan ribuan dolar!”